Sabtu, 21 Februari 2009

Pamong Budaya

DI dalam sistem pendidikan/ pengajaran Tamansiswa, tidak digunakan istilah guru. Yang ada adalah pamong. Tugas pamong jauh lebih kompleks dan berat dibanding guru yang mendidik murid menjadi ‘sekadar’ pintar/pandai dan terampil. Pamong memiliki tanggung jawab moral, sosial dan kultural untuk mengolah kepribadian siswa menjadi subjek yang memiliki kemampuan intelektual, kecakapan teknis, kecerdasan/kematangan emosional, kejujuran, sikap adil dan dedikasi. Intinya, di samping mengolah segi kognitif, afektif dan psikomotorik, pamong juga membangun segi mental dan spiritual sehingga siswa memiliki integritas dan karakter. Tugas mulia ini sinkron dengan makna pamong, yakni pengasuh (pamomong). Terhadap siswanya, pengasuh juga menjalankan fungsi orangtua, merawat, mengembangkan dan membesarkan kepribadian anak.
Didorong keinginan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia pamong di lingkungan Tamansiswa se-Indonesia. Majelis Luhur Tamansiswa (MLTS) akan menyelenggarakan ‘Pelatihan dan Workshop Pamong Budaya Nusantara’, 6 sampai 9 November 2008, di Kaliurang Yogyakarta. MLTS punya harapan, para pamong di samping memiliki kapasitas sebagai pendidik/pengajar juga mempunyai kapasitas sebagai pelaku budaya, seperti pada masa sebelumnya (awal berdirinya Tamansiswa hingga tahun 1980-an). Para pamong yang memiliki kapasitas sebagai pelaku budaya atau bahkan budayawan bisa kita sebut antara lain, Ki Suratman, Ki Said Reksohadiprojo, Ki Hadi Sukatno, Ki Nayono, Ki Mohamad Said, Ki Oengki Soekirno dan Ki Priyo Dwiarso.
Tidak terlalu berlebihan jika di- katakan bahwa sistem pendidikan Tamansiswa sekarang terlalu teknis dan rigid terhadap ketentuan pemerintah (sebuah keharusan yang tidak bisa ditolak). Akibatnya, suasana belajar-mengajar pun menjadi ‘kering’. Kondisi ini masih ditambah hubungan pamong-siswa yang tidak seintens dulu. Akhirnya, Tamansiswa menjadi lembaga pendidikan yang nyaris tidak berbeda (jauh) dengan lembaga pendidikan yang lain. Kini, karakter kultural itu kurang menonjol seperti pada keberadaan Tamansiswa sebelumnya. Padahal, karakter kultural merupakan kekayaan Tamansiswa yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya. Keunggulan itu terbukti telah melahirkan tokoh-tokoh yang kini eksis; misalnya tokoh-tokoh yang pada tahun 1950-an hingga 1980-an menempuh pendidikan di Tamansiswa. Terlalu banyak untuk disebut.
Jika ingin melahirkan banyak pamong budaya, maka salah satu jalan yang bisa ditempuh Tamansiswa adalah mengembalikan karakter kultural pada dirinya.
Kultur tentu tidak sebatas kesenian, melainkan nilai-nilai kreativitas yang digali melalui eksploitasi dan transformasi. Eksplorasi merupakan penjelajahan atas wilayah-wilayah sosial-kultural untuk menemukan berbagai nilai yang dapat menjawab tantangan kehidupan. Eksplorasi juga memungkinkan kita melakukan berbagai terobosan untuk menemukan nilai-nilai kemungkinan yang baru dan segar. Sedangkan transformasi merupakan perubahan kebudayaan yang menghasilkan nilai-nilai baru melalui dialog dan penafsiran yang panjang dan intens. Untuk menjadi praksis maka eksplorasi dan transformasi itu perlu diterjemahkan, diurai dalam sistem pendidikan Tamansiswa.
Melahirkan para pamong budaya berarti melahirkan subjek-subjek budaya yang memiliki kemampuan minimal tiga hal, yakni: 1. Budaya ide (wawasan atas nilai-nilai kebudayaan, sistem pengetahuan); 2. Budaya ekspresi (daya cipta berupa ekspresi estetik dan non estetik); dan 3. Budaya hasil/produk (kemampuan menciptakan produk fisik).
Budaya ide akan mengantarkan pamong budaya kepada seluruh dinamika nilai melalui olah gagasan/pemikiran/berbagai wacana/konsep-konsep. Artinya, pengolahan budaya ide menjadikan pamong budaya memiliki kematangan konseptual; di mana seluruh aspek kebudayaan dirancang untuk kemudian dibangun. Kita tahu, kebudayaan diawali ide. Kualitas ide menentukan kualitas kebudayaan.
Budaya ekspresi mendorong pamong budaya pada penguasaan idiom-idiom ungkap, simbol-simbol, sistem tanda, sistem perilaku, sistem komunikasi, baik secara estetik dan non estetik. Kemacetan kebudayaan sering diakibatkan karena para pendukungnya kehilangan sistem komunikasi, sistem simbol dan sistem perilaku/ekspresi. Akibatnya, kebudayaan tersebut gagal dipahami masyarakat dan akhirnya mengeras dan membatu menjadi sekadar artefak. Karena kebudayaan itu dinamis, maka manusia harus selalu menemukan cara-cara baru, sistem-sistem baru untuk mengomunikasikan kepada khalayak. Cara-cara itu bisa ditemukan melalui eksplorasi: penjelajahan.
Budaya produk mengajari manusia untuk mengenal sistem produksi sekaligus melahirkan hasil-hasil kebudayaan yang bersifat fisik. Benda-benda, baik konsumsi maupun non-konsumsi lahir dari sistem pengetahuan atau sistem penciptaan yang sesuai dengan kebutuhan manusia, bukan sekadar ditentukan kerja fisik.
Selain itu, kita pun perlu mengenal dua kata kunci yang perlu dimiliki pamong budaya, kepekaan dan kreativitas. Kepekaan merupakan sejenis kemampuan afektif-kognitif yang menjadikan kita mengetahui dan melihat persoalan kehidupan: bahwa dalam setiap momentum tentu ada perubahan yang harus dijawab. Peka terhadap apa? Peka terhadap lingkungan sosial-kultural!
Sedang kreativitas merupakan daya cipta yang memanfaatkan kecerdasan akal-budi dan kemampuan teknis. Kreativitas angat ditentukan padat sudut pandang kita atas suatu persoalan, sehingga pencapaian kita khas, baru, segar, unik, berkualitas, berdaya guna dan berbeda dengan pencapaian orang lain. q - c
*) Indra Tranggono, Pemerhati, Aktivis Kebudayaan dan
alumnus Tamansiswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar